Arema Lebih Prospektif Dibanding Persebaya

Judi Online

Judi Online – Arema Lebih Prospektif Dibanding Persebaya,

Tdak lolosnya Arema Cronus dalam verifikasi BOPI memunculkan kekecewaan di berbagai kalangan, terutama supporter Aremania. Walau pada akhirnya Arema tetap bertanding di ISL yang kini bernama QNB League, namun BOPI sudah dianggap sebagai aktor antagonis.

Namun siapa sangka, justru keputusan tersebut sebenarnya inspiratif bagi Arema Cronus. Setidaknya keputusan badan yang dipimpin Noor Aman tersebut menggugah Arema dan Aremania bahwa masih ada masalah yang menjadi celah bagi pihak lain untuk menjadikan mereka pesakitan.

Pergerakan pun kemudian terjadi. Iwan Budianto, orang nomor satu di Arema Cronus, melakukan inisiatif membangun kepingan puzzle yang tercecer. Beberapa sosok yang menjadi figur teras semasa masih bernama Arema Indonesia didekati dan dirangkul.

Di sana ada M Nur, Andi Darussalam Tabusala, Gunadi Handoko, serta pihak ahli waris almarhum Lucky Adrianda Zaenal. Bahkan eks pengurus di era PT Bentoel Prima juga dilibatkan dalam rencana rekonsiliasi yang visinya mengembalikan format kepengurusan Arema Indonesia.

Saya pribadi beropini, langkah rekonsiliasi sudah seharusnya dilakukan Arema mumpung momentumnya tepat. Semua pihak yang pernah terlibat sengketa harus menyadari bahwa kisruh selama ini tidak benar-benar membawa keuntungan bagi salah satu pihak.

Coba kita pikir lebih dalam lagi, tidak ada yang benar-benar ‘hidup tenang’ dengan sengketa di Arema Cronus. Pihak Arema IPL yang dulu diwakili keluarga Lucky Zaenal dan M Nur, malah hancur lebur setelah kompetisi Indonesia Premier League (IPL) dibubarkan.

Ibarat seorang anak yang kalah dalam perkelahian, mereka hanya bisa melempari lawannya dari tempat tersembunyi. Sekarang kita lihat di sisi lain, Arema Cronus yang diakui Aremania juga tidak bisa ongkang-ongkang kaki. Verifikasi BOPI secara perlahan membuka semuanya soal legalitas mana yang dipakai Arema Cronus.

Di sinilah semangat rekonsiliasi harus diawali. Satu hal yang dicamkan adalah tak ada satu pihak pun yang diuntungkan atau benar-benar ‘hidup tenang’ sebelumnya persoalan selesai. Langkah Arema kelihatannya lapang, karena sejauh ini semua pihak memiliki visi sama.

Sekadar membalik buku sejarah, bagaimana dulu M Nur menjadi sosok yang angkuh ibarat karang ketika konflik Arema sedang panas-panasnya. Sosok dia seakan tidak bisa disentuh dengan kekuatan apapun, termasuk kekuatan Aremania. Tapi sekarang ada perkembangan.

M Nur sudah bertemu dengan tokoh-tokoh Arema Indonesia lain dalam rangka melakukan rekonsiliasi. Layak diapresiasi juga eks pengurus Arema zaman PT Bentoel yang masih rela meluangkan waktunya untuk terlibat dalam ‘proyek besar’ bernama rekonsiliasi.

PT Bentoel Prima sudah melepas Arema Indonesia pada 2009 dan kontribusi materi terakhir mereka senilai Rp7,5 miliar terjadi pada 2010. Ternyata kepedulian mereka terus berlanjut, dengan munculnya Satrija Budi Wibawa dan Darjoto Setiawan.

Saya pribadi masih terus menjalin kontak dengan Satrija, yang pekan lalu juga mampir ke kantor Arema Cronus. Sebagai bagian sejarah Arema dan masih berdomisili di Malang, dia merasa masih memiliki tanggung jawab pada masa depan Singo Edan.

Satrija dan beberapa eks pengurus menjadi aset berharga bagi Arema. Klub ini masih memiliki orang-orang yang mau bergerak dan komitmen menyatukan kembali kepingan persoalan yang masih berserakan, walau sebagian sudah tak terkait langsung dengan klub. Arema punya aset, dan punya momentum, jadi harus benar-benar dimanfaatkan.

Judi Online

Arema jauh lebih lebih baik dari Persebaya Surabaya. Arema tetap berakar pada Arema Indonesia dan akar itu tidak sampai tercabut sampai sekarang. Tinggal bagaimana akar yang ada itu diperbaiki dan ditimbuhkan menjadi sesuatu yang jauh lebih baik.

Berbeda dengan Persebaya, yang dualismenya melibatkan dua pihak yang sama sekali berbeda. Kalau semua pihak di Arema sampai sekarang memakai legalitas Arema Indonesia, tak demikian dengan Persebaya yang memunculkan dua legalitas berbeda.

Persebaya 1927 tetap berpegang pada PT Persebaya Indonesia pimpinan Saleh Ismail Mukadar, sedangkan Persebaya Surabaya dikendalikan PT Mitra Muda Inti Berlian. Ada dua pihak ini yang menyulitkan Persebaya untuk kembali menyatu karena akarnya sudah berbeda.

Sangat jelas Persebaya menghadapi masalah yang lebih rumit dibanding Arema Cronus. Proses islah atau rekonsiliasi Arema saya yakin bisa diselesaikan dalam hitungan minggu. Tapi melihat kondisi persoalan Persebaya, prediksi saya akan menyita waktu yang panjang.

Kalau pun PT Persebaya Indonesia dan PT Mitra Muda Inti Berlian melebur, masih sulit memperkirakan bagaimana cara kedua pihak bertemu. Sedangkan, hingga saat ini kedua kubu masih sama-sama bersikukuh paling benar dan sah secara hukum dalam mengelola Persebaya.

Kondisi Persebaya diperparah dengan situasi di lapangan. Mayoritas Bonek masih setia pada Persebaya 1927, sementara sebagian kecil mendukung Persebaya Surabaya. Ironisnya, klub yang didukung mayoritas supporter tidak lagi eksis di kompetisi.

Ini lagi-lagi berbeda dengan Malang. Situasi di Arema relatif adem karena mayoritas Aremania lebih condong ke Stadion Kanjuruhan. Sedangkan yang menjadi supporter Arema IPL dulu sudah tidak lagi muncul ke permukaan. Ini yang saya katakan Arema posisinya lebih menguntungkan dibanding Persebaya.

 

 

BintangBola | 338Poker
Customer Satisfaction is Our Main Concern

BBM : 2A3AF1B1
WhatsApp : +855 9696 23232
WeChat : Bintangbola
YM : csbintangbola |csbintangbola2
Facebook : bintangbola
Twitter : @bintang_bola
Google+ : +BintangBola