FOKUS: Penantian 20 Tahun, Ayo Timnas Bawa Pulang Itu Trofi!

Berita Bola, “FOKUS: Penantian 20 Tahun, Ayo Timnas Bawa Pulang Itu Trofi!”

DI antara sejumlah isu dan kasus yang bikin masyarakat Indonesia berpotensi terpecah, ada satu titik kesejukan yang terlecut dari para petarung lapangan hijau negeri ini di panggung Piala AFF 2016. Mana lagi kalau bukan tim nasional (timnas) Indonesia yang selangkah lagi juara.

Juara. Ya, juara. Ini kan yang pastinya diinginkan oleh 200 juta lebih rakyat Indonesia? Gelar “jawara” se-ASEAN yang digelar sejak 1996 (waktu itu benama Piala Tiger) hingga sekarang belum sekalipun trofinya bisa kita bawa pulang.

Ini saatnya bawa pulang itu piala. Piala itu memang hanya sekadar trofi berwarna emas yang jadi simbolis pemenang Piala AFF. Tapi maknanya akan sangat luar biasa – seandainya harapan kita semua terwujud.

Mengingat situasi politik nasional yang masih panas dan pemerintah tengah gencar-gencarnya menggalakkan arti Bhinneka Tunggal Ika agar NKRI tetap utuh Boaz Salossa Cs turut melakoninya dari rumput hijau.

Sejak masa pergerakan di negeri kita, sepakbola sendiri jadi pemersatu pemuda kala kolonialisme Hindia Belanda masih bercokol. Kini, sepakbola kembali jadi “obat” terbaik bagi nasionalisme dan kebhinekaan kita.

Perjuangan mereka amat heroik sejak fase awal. Sempat tak diunggulkan, “Tim Garuda” pun hampir tak bisa lolos dari grup neraka yang dihuni Singapura, Filipina dan Thailand.

Baca Juga, “Indonesia Butuh Dua Tahun untuk Bisa Sehebat Thailand”

Negara terakhir di atas kembali jadi lawan terakhir tim besutan Alfred Riedl ini di Final Leg II di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu 17 Desember mendatang.

Bisa dibilang, “romantisme” timnas ini sudah selayaknya Portugal di Euro 2016. Sempat pula tak diunggulkan dan juga nyaris tak lolos fase grup. Tapi kenyataan berkata lain.

Cristiano Ronaldo (CR7) dkk justru sanggup bertahan dan lolos fase grup dengan dramatis. Tapi pengamat pun masih pesimis tim berjuluk Seleção das Quinas itu sanggup melangkah jauh.

Dari situ saja sudah sepakat kan, kalau langkah mereka menyerupai Indonesia saat ini? Nah, publik Eropa mencapai klimaks kejutannya ketika Portugal sukses mengalahkan tuan rumah Prancis di partai puncak.

Cinderella Story versi Timnas Portugal itupun serasa sempurna. Ketika pulang, mereka pun disambut bak pahlawan.

Pastinya kisah manis Portugal ini kita harapkan bisa menular pada Timnas Garuda. Perjuangan mereka tidak hanya butuh aksi di lapangan hijau dan optimisme saja. Tapi juga doa kita semua.

Doa para manusia yang mengaku bangsa Indonesia. Tidak hanya mereka yang Muslim, Nasrani, Hindu, Buddha, namun doa dari kita semua yang terikat dalam kebhinekaan walau berbeda agama, suku, ras dan golongan.

11 pemain timnas di lapangan plus para pemain cadangan, sudah mengajarkan dan mengingatkan kita soal kebhinekaan. Mereka tidak hanya terdiri dari satu golongan atau agama.

Di sana ada Muslim, Kristen, Hindu. Ada pula orang Jawa, Sumatera, Maluku, hingga Papua. Tapi enggak ada tuh yang bikin mereka ribut sendiri di lapangan.

Mereka mengajarkan kita persatuan dan kesatuan dengan satu tujuan bersama. Apalagi kalau bukan Indonesia juara!

Pada Sabtu 17 Desember nanti, Indonesia hanya berjarak 90 menit dari gelar juara. Pada Final Leg I di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Timnas sanggup comeback dan menang 2-1 kendati tertinggal lebih dulu.

Tentu perjuangan belum usai. Masih ada dua kali 45 menit di Stadion Rajamangala. Optimisme sudah dilantangkan pelatih Alfred Riedl jelang final leg kedua.

“Saya yakin Timnas Indonesia bisa menang, dan saya sengaja datang ke Bangkok lebih awal agar para pemain bisa beradaptasi dengan lingkungan dan cuaca yang ada di Bangkok,” kata Prediksi Bola, Jumat (16/12/2016).

Harapan tinggi ini kendati berbalut optimisme, tetap saja turut diiringi beban. Diingatkan juga pada semua saudara sebangsa dan se-Tanah Air bahwa dalam sepakbola biasa ada yang menang dan kalah atau juara dan tidak juara.

Seumpamanya Kurnia Meiga dkk gagal bawa pulang itu piala, please jangan dihujani cercaan, celaan, hingga hinaan kasar yang biasanya muncul di mana-mana ketika hasil yang didapat Timnas antiklimaks.

Kita tetap mesti mengapresiasi perjuangan mereka. Toh kita akan tetap membutuhkan mereka sebagai “pengalihan isu” dari semua hal politis yang kadang bikin kita muak. #IndonesiaJuara!